Minggu, 07 November 2010

DESAIN STUDI EPIDEMIOLOGI

Epidemiologi adalah ilmu yang mempelajari distribusi dan determinan-determinan frekuensi penyakit dan kesehatan pada populasi manusia.
Berikut ini desain penelitian epidemiologi :

1.Studi Cross Sectional
Studi cross sectional (potong-lintang) adalah rancangan studi epidemiologi yang mepelajari hubungan penyakit dan paparan (faktor penelitian) dengan cara mengamati status paparan dan penyakit serentak pada individu-individu dari populasi tunggal, pada satu saat atau periode tertentu.
Dalam rancangan studi potong lintang, peneliti mendapatkan data frekuensi dan karakter penyakit, serta paparan faktor penelitian pada suatu populasi dan pada satu saat tertentu. Sehingga data yang dihasilkan adalah prevalensi bukan insiden. Tujuan studi cross sectional adalah untuk memperoleh gambaran pola penyakit dan determinan-determinannya pada populasi sasaran.

Rancangan Penelitian Cross Sectional :




Kelebihan studi cross sectional:
a.    Mudah dilaksanakan,
b.    Sederhana dan ekonomis dalam hal waktu dan biaya.
c.    Dapat diperoleh dengan cepat
d.   Dalam waktu yang bersamaan dapat dikumpulkan variabel yang banyak, baik variabel efek maupun variabel risiko.
e.    Tujuannya hanya sekedar untuk mendiskripsikan distribusi penyakit yang dihubungkan dengan paparan faktor-faktor penelitian.
f.     Studi cross sectional tidak memaksa subyek untuk mengalami faktor yang diperkirakan bersifat merugikan.
g.    Kemungkinan subjek “drop out” kecil.
h.    Tidak banyak hambatan etik.
i.      Dapat digunakan sebagai dasar penelitian selanjutnya

Kelemahan studi cross sectional:
a.    Diperlukan subjek penelitian yang besar. Sehingga sulit untuk mengadakan eksplorasi, karena kemungkinan terdapat subyek studi yang terlalu sedikit dalam salah satu kelompok;
b.    Studi cross sectional tidak tepat digunakan untuk menganalisis hubungan kausal paparan dan penyakit.
c.    Penggunaan data prevalensi, bukan insidensi menyebabkan hasil study potong lintang mencermminkan tidak hanya aspek etiologi penyakit tetapi juga aspek survivalitas penyakit itu. Jika data yang digunakan adalah prevalensi dan telah terjadi kelangsungan hidup selektif, maka frekuensi penyakit yang diamati akan lebih besar dari frekuensi penyakit yang seharusnya diukur. Sebaliknya jika data prevalensi tersebut telah terjadi mortalitas selektif, maka frrekuensi penyakit yang teramati akan lebih sedikit daripada frekuensi penyakit yang seharusnya diukur.
d.   Sulit menetapkan mekanisme sebab akibat
e.    Tidak dapat memantau perubahan yang berhubungan dengan perjalanan waktu; sehingga kurang tepat untuk mempelajari penyakit dengan kurun waktu sakit pendek
f.     Kesimpulan korelasi paling lemah dibanding case kontrol atau cohort
g.    Tidak menggambarkan perkembangan penyakit  secara akurat.
h.    Tidak valid untuk meramalkan suatu kecenderungan.
i.      Kesimpulan korelasi factor risiko dengan factor efek paling lemah.

Contoh penelitian case kontrol:
Penelitian untuk membuktikan adanya hubungan antara cancer paru dengan merokok. Tahapan penelitian ini adalah:
1.    Tahap pertama.
Menidentifikasi variabel-variabel yang akan diteliti dan kedudukannya :
a.    Variabel efek (dependen) = cancer paru
b.    Variabel risiko (independen) = merokok
c.    Variabel pengendali = umur pekerjaan dan sebagainya
2.    Tahap kedua.
Menetapkan subjek penelitian, yaitu populasi dan sample penelitian. Misalnya yang menjadi populasi adalah semua pria di wilayah tertentu , dengan umur 30-50 tahun, baik yang merokok dan tidak merokok.
3.    Tahap ketiga.
Melakukan pengumpulan data, observasi atau pengukuran terhadap variabel efek dengan risiko dan variabel yang dikendalikan secara bersamaan (dalam waktu yang sama). Caranya,dengan menanyakan apakah menderita cancer paru, memiliki kebiasaan merokok, menanyakan  umur, pekerjaandan variabel kendali lainnya.
4.    Tahap keempat.
Mengolah dan menganalisis data dengan cara membandingkan penderita cancer paru dengan kebiasaan merokok. Dari analisis tersebut akan diperoleh bukti adanya atau tidaknya hubungan antara merokok dengan cancer paru.

Ukuran analisis
1)      Prevalen Risk (PR)
2)      Relative Risk (RR)




Nilai RR yaitu:
a/(a+b) : c/(c+d)
Interpretasi:
1. RR = 1, faktor risiko bersifat netral
2. RR>1; Confident Interval (CI)> 1, faktor risiko menyebabkan sakit
3. RR< 1; Confident interval (CI)< 1, faktor risiko mencegah sakit

2. Studi Case Control. 


Studi case kontrol adalah rancangan studi epidemiologi yang mempelajari hubungan antara paparan (faktor penelitian) dan penyakit, dengan cara membandingkan kelompok kasus dan kelompok kontrol berdasarkan status paparannya.
Ciri-ciri studi kasus kontrol adalah pemilihan subyek berdasarkan status penyakit, untuk kemudian dilakukan pengamatan apakah subyek mempunyai riwayat terpapar faktor penelitian atau tidak.
Subyek yang didiagnosis menderita penyakit disebut kasus, berupa insidensi/ kasus baru yang muncul pada suatu populasi, sedangkan subyek yang tidak menderita disebut kontrol, yangdicuplik secara acak dari populasi yang berbeda dari populasi asal.

Rancangan Penelitian Case Control :



Kelebihan studi case kontrol:
a.    Case kontrol bersifat relatif lebih murah dan mudah.
b.    Cocok untuk penelitian dengan periode laten yang panjang.
c.    Karena subyek penelitian dipilih berdasarkan status penyakit, maka penelitian memiliki kelulasaan menentukan rasio ukuran sampel kasus dan kontrol yang optimal. Karena subyek penelitian dipilih berdasarkan status penyakit sehingga rancangan ini tepat sekali untuk meneliti penyakit langka.
d.   Dapat meneliti pengaruh sejumlah paparan terhadap sebuah penyakit.
e.    Adanya kesamaan ukuran waktu antara kelompok kasus dengan kelompok kontrol.
f.     Adanya pembatasan atau pengendalian faktor resiko sehingga hasil penelitian lebih tajam dibanding dengan rancangan cross sectional.
g.    Tidak menghadapi kendala etik seperti pada penelitian eksperimen atau cohort.
h.    Subjek penelitian bisa lebih sedikit


Kelemahan studi case kontrol:

a.    Alur metodologi inferensial kausal yang bertentangan dengan logika eksperimen klasik.
b.    Studi case kontrol tidak efisien untuk mempelajari paparan-paparan yang langka.
c.    Karena subyek dipilih berdasarkan status penyakit, maka dengan studi kasus kontrol pada umumnya peneliti tidak dapat menghitung laju insidensi.
d.   Pada situasi tertentu tidak  mudah untuk memastikan hubungan temporal antara paparan dan penyakit. Oleh karena itu, dalam riset etiologi, untuk meyakinkan bahwa paparan mendahului penyakit, maka peneliti dianjurkan menggunakan insidensi ketimbang prevalensi.
e.    Kelompok kasus dan kelompok kontrol dipilih dari dua populasi yang terpisah, sehingga sulit dipastikan apakah kasus dan kontrol pada populasi studi benar-benar setara dalam hal faktor-faktor luar dan sumber-sumber distrorsi lainnya. Kesulitan memilih kontrol yang benar-benar sesuai dengan kelompok kasus karena banyaknya factor resiko yang harus dikendalikan
f.     Pengukuran variable yang retrospektif, objektivitas dan reliabilitas kurang karena subjek penelitian harus mengingat kembali faktor-faktor resikonya.
g.    Tidak dapat diketahui efek variable luar karena secara teknis tidak dapat dikendalikan.

Contoh penelitian case kontrol:
Penelitian untuk membuktikan adanya hubungan antara cancer paru dengan merokok. Tahapan penelitian ini adalah:
1.    Tahap pertama.
Menidentifikasi variabel-variabel yang akan diteliti dan kedudukannya :
a.    Variabel efek (dependen) = cancer paru
b.    Variabel risiko (independen) = merokok
c.    Variabel pengendali = umur pekerjaan dan sebagainya
2.    Tahap kedua.
Menetapkan subjek penelitian, yaitu populasi dan sample penelitian. Misalnya yang menjadi populasi adalah semua pria di wilayah tertentu , dengan umur 30-50 tahun, baik yang merokok dan tidak merokok.
3.    Tahap ketiga.
Mengidentifikasi kasus penderita cancer paru. Dalam identifikasi kasus ini dilakukan pembatasan jenis kelamin yaitu pria dan berumur 30-50 tahun.
4.    Tahap keempat.
Pemilihan subjek kontrol, yaitu kelompok pasangan penderita cancer paru. Pemilihan berdasarkan kesamaan karakteristik subjek pada kasus.
5.    Tahap kelima
Melakukan pengukuran retrospektif dengan menanyakan perilaku dan kebiasaan sebelum terkena cancer paru.
6.    Tahap keenam.
Melakukan pengolahan dan analisis data, dengan cara membandingkan proporsi kebiasaan merokok dan tidak merokok pada kelompok kasus dan proporsi kebiasaan yang sama pada kelompok kontrol. Dari sini akan diperoleh ada tidaknya hubungan kebiasaan merokok dengan penyakit cancer paru.

Ukuran/ Analisis
Analisis data dalam penelitian kasus control dengan menghitung Odds Ratio (OR), yang merupakan estimasi dari relative Risk.


Odds Ratio = ad : bc
Confidence Interval Odds Ratio = upper OR ( 1+Z/X )
    = lower OR ( 1- Z/X )
Interpretasi:
OR = 1 faktor resiko bersifat netral
OR>1; Confident Interval (CI)>1 =faktor resiko menyebabkan sakit
OR<1 ; Confident Interval (CI)<1=faktr resiko mencegah sakit



3.      Studi Cohort
Studi cohort adalah rancangan studi yang mempelajari hubungan antara paparan dengan penyakit dengan cara membandingkan kelompok terpapar (faktor penelitian) dan kelompok tidak terpapar berdasarkan status penyakit. Ciri-ciri studi cohort adalah pemilihan subjek berdasarkan status paparannya dan kemudian dilakukan pengamatan dan pencatatan apakah subyek dalam perkembangannya mengalami penyakit yang diteliti atau tidak.
Pada saat mengidentifikasi status paparan, semua subyek harus bebas dari penyakit yang diteliti. Jadi, kelompok terpapar maupun kelompok tidak terpapar berasal dari satu populasi atau dua populasi yang bebas penyakit tersebut. Jika ada dua populasi maka kedua populasi tersebut harus memiliki karakteristik yang sama. Dalam studi cohort peneliti hanya mengamati dan mencatat paparan dan penyakit tanpa sengaja membuat subyek terpapar.

Rancangan Penelitian Cohort :



Kelebihan studi cohort:
a.    Kesesuaian dengan logika studi ekpsrimental dalam membuat inferensi kausal, yaitu dengan menentukan faktor penyebab terlebih dahulu kemudian baru diikuti dengan akibat
b.    Peneliti menghitung laju insidensi.
c.    Studi cohort sesuai untuk meneliti paparan yang langka (misal, fakto-faktor lingkungan).
d.   Memungkinkan peneliti mempelajari sejumlah fakta secara serentak dari sebuah paparan.
e.    Bersifat observasional, sehingga tidak ada subyek yang merasa dirugikan karena mendapat paparan faktor yang merugikan.
f.     Dapat mengatur komparabilitas antar dua kelompok (kelompok kasus dan kelompok kontrol) sejak awal penelitian.
g.    Dapat secara langsung menetapkan besarnya angka resiko dari suatu waktu ke waktu yang lain.
h.    Ada keseragaman observasi, baik terhadap factor resiko maupun efek dari waktu ke waktu.

Kelemahan studi cohort:
a.    Membutuhkan biaya yang mahal dan waktu yang lama.
b.    Tidak efisien dan tidak praktis untuk mempelajari penyakit yang langka, kecuali ukuran sampel yang besar dan prevalensi penyakit pada kelompok terpapar cukup tinggi.
c.    Kemungkinan adanya subjek penelitian yang drop out dan akan mengganggu analisis hasil. Hilangnya subyek selama penelitian karena migrasi, tingkat partisipasi yang rendah atau meninggal, dan sebagainya.
d.   Karena faktor penelitian sudah ditentukan terlebih dahulu pada awal penelitian, maka studi cohort tidak bisa digunakan untuk penyakit yang lainnya.
e.    Karena faktor risiko yang ada pada subjek akan diamati sampai terjadinya efek (mungkin penyakit) maka hal ini berarti kurang atau tidak etis.

Contoh penelitian cohort:
Penelitian untuk membuktikan adanya hubungan antara cancer paru dengan merokok. Tahapan penelitian ini adalah:

1.    Tahap pertama.
Menidentifikasi variabel-variabel yang akan diteliti dan kedudukannya :
a.    Variabel efek (dependen) = cancer paru
b.    Variabel risiko (independen) = merokok
c.    Variabel pengendali = umur pekerjaan dan sebagainya
2.    Tahap kedua.
Menetapkan subjek penelitian, yaitu populasi dan sample penelitian. Misalnya yang menjadi populasi adalah semua pria di wilayah tertentu , dengan umur 30-50 tahun, baik yang merokok dan tidak merokok.
3.    Tahap ketiga.
Mengidentifikasi subjek yang merokok (resiko positif) dari populasi tersebut dan subjek yang tidak merokok (resiko negatif) dengan jumlah yang sama dengan kelompok merokok.
4.    Tahap keempat
Mengamati perkembangan efek pada kelompok orang yang merokok (risiko positif) pada kelompok kasus dan kelompok yang tidak merokok (risiko negatif) pada kelompok kontrol tersebut dalam kurun waktu tertentu, misalnya 10 tahun.
5.    Tahap kelima 
    Mengolah dan menganalisis data. Analisis hasil dengan membandingkan proporsi orang-orang yang menderita cancer paru dengan orang-orang yang tidak menderita cancer paru pada kelompok merokok dan tidak merokok

Ukuran analisis

a.    Insiden Risk ( IR ) = a/ (a+b)
b.    Relative Risk ( RR ) = IR kelompok terpapar : IR kelompok tidak terpapar = (a/a + b) : (c/c + d)
c.    Attributable Risk = IR kelompok terpapar – IR kelompok tidak terpapar
Interpretasi
a.    RR = 1, risiko kelompok terpapar sama dengan kelompok tidak terpapar
b.    RR > 1, terpapar menyebabkan sakit
    RR < 1, terpapar mencegah sakit



Sumber :
1. Murti, Bhisma,1995. Prinsip dan Metode Riset Epidemiologi. Gadjah Mada University Press,Yogyakarta
2. Notoatmodjo, Soekidjo.2005.Metodologi Penelitian Kesehatan. Rineka cipta. Jakarta

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar